Home > Uncategorized > Kisah Pemijat Sapi dan Tukang Jamu

Kisah Pemijat Sapi dan Tukang Jamu

Sapi memberikan pekerjaan. Itu bukan omong kosong. Di Yogyakarta dan Boyolali, ada sejumlah profesi berbasis sapi: pijit sapi, tukang cocok hidung, sampai tukang rogoh.

Seminggu terakhir, sapi milik Tujilah ”mogok makan”. Akibatnya, tubuh sapi itu lemas sampai tak bisa berdiri. Tujilah khawatir. Dia pun menghubungi Dul Aman (61), pemijat sapi dan kuda di Segoroyoso—sebuah desa di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang terkenal sebagai tempat pejagalan sapi dan kuda.

Kamis (19/8) siang, Dul datang ke rumah Tujilah. Dia langsung menemui sapi Tujilah di kandang. Setelah mengikatnya kuat-kuat, Dul memijat bagian punduk sapi sambil mulutnya komat-kamit membaca mantra. Pijatan dilanjutkan ke bagian kaki depan, punggung, dan kaki belakang. Kemudian, tiba-tiba Dul membetot ekor sapi itu kuat-kuat. Sapi itu kaget dan meronta. Dul tenang-tenang saja.

”Memijat hewan itu harus tenang, tetapi waspada, sebab hewan suka melawan,” kata Dul yang bokongnya pernah digigit kuda yang dipijatnya.

Betotan itu menjadi penutup sesi pijat yang berlangsung selama 30 menit. Dul selanjutnya membaluri bagian tubuh sapi itu dengan krim hasil racikan sendiri. ”Bahannya terdiri dari satu ons jahe, 25 biji cabai rawit merah, dan satu botol kecil spiritus atau alkohol. Rasanya sangat panas dan bisa bikin sapi kelojotan. Tetapi, setelah itu, sapi langsung sembuh,” katanya.

Dul mulai memijat sapi sejak tahun 1983. Dia mewarisi ilmu itu dari ayah dan kakeknya yang juga pemijat sapi. Pijatannya, kata Dul, mampu menyembuhkan sapi yang masuk angin, terkilir, patah tulang, tidak nafsu makan, kecetit, dan sulit punya anak.

Dari profesi inilah Dul menghidupi keluarganya hingga sekarang. Hampir setiap hari ada saja orang yang memanggil Dul. Pelanggannya pun melewati batas provinsi hingga ke Boyolali, Jakarta, dan Lampung.

Obat sapi, rogoh sapi

Sapi juga butuh jamu dan obat. Tentu agar para sapi tetap fit. Ngadenan Rais (40) dan istrinya, Siti (38), mencari rezeki dengan berjualan jamu dan obat untuk sapi. Setiap hari, dia menyambangi pasar ternak di wilayah Yogyakarta untuk berjualan jamu sapi. Awal Agustus lalu, dia jualan di sudut Pasar Ternak Munggi. Bermodal toa atau pengeras suara butut, dia berpromosi.

”Kalau sapinya cacingan, minum ini,” katanya sambil mengacungkan obat cacing sapi—dia berbicara dalam bahasa Jawa.

”Yen sapine kurang birahi utawa ora meteng-meteng, ombenono iki, nyoh…!! —Kalau sapinya kurang berahi dan tidak bunting, minum ini, nih…!” katanya mengacungkan obat lainnya.

Di lapak Rais ada berbagai obat sapi yang dipajang. Ada obat untuk mencegah cacingan, masuk angin dan korengan, menambah nafsu makan, dan obat subur buat sapi betina.

Dia bersaing dengan Kamto Sudarmo (56) yang berjualan tidak jauh dari lapaknya. ”Kalo pedhet kasih setengah kapsul. Yang babon, dua kapsul. Ingat, jangan dikasih ke sapi yang lagi meteng (bunting),” ujar Kamto menjelaskan cara penggunaan kapsul penambah nafsu makan berukuran jumbo, 2 x 5 sentimeter, kepada seorang pembeli.

Kamto berjualan jamu sejak tahun 1979. Awalnya, dia menjajakan jamu untuk manusia, tetapi sejak akhir 1990, dia banting setir menjual jamu sapi. ”Ternyata lebih laku jamu sapi. Sehari bisa dapat Rp 200.000 dengan keuntungan 20 persen,” kata Kamto.

Ada pula profesi pencocok hidung sapi. Di tengah pasar, Supriyanto melubangi hidung sapi metal berukuran besar. Dia pegang kepala sapi yang sudah terikat tak berdaya itu. Kemudian, tangannya sebelah dengan cepat menceploskan jarum dari kulit bambu yang diberi tali ke dalam hidung sapi. Usahanya berhasil dan dia mendapatkan uang beberapa ribu rupiah.

Tukang ngeluwi (mencocok hidung sapi) di pasar itu bukan hanya Supriyanto. Ada juga Duwet Suyar (41) yang hari itu tidak dapat order. ”Mencocok hidung sapi itu perlu keahlian. Kalau salah tusuk, hidung sapi bisa berlumuran banyak darah,” kata Duwet yang ngeluwi sejak usia 12 tahun.

Orang berprofesi unik yang menggantungkan hidup pada sapi juga mudah ditemukan di Pasar Ternak Sunggingan, Boyolali, Jawa Tengah. Di sana, ada juru rogoh Sulisno Hartosuwiryo (61) yang tugasnya memeriksa kebuntingan sapi. Hasil pemeriksaan Sulisno menentukan harga jual sapi. Maklum, harga sapi bunting lebih tinggi Rp 1 juta-Rp 1,5 juta dibanding sapi tak bunting.

”Sejauh ini belum pernah ada yang protes (karena hasil pemeriksaan) tidak akurat,” ujar Sulisno yang melakoni pekerjaan ini sejak 20 tahun lalu.

Di pasar itu, dia adalah satu-satunya juru rogoh. Setiap hari pasar di Sunggingan, dia memeriksa 70-80 ekor sapi betina. Saat dijumpai, Selasa (17/8) pagi, dia telah merogoh 20 ekor sapi.

Sekali rogoh dia mendapat upah Rp 10.000. Itu jika sapi terbukti bunting. Jika tidak, dia mendapat Rp 5.000 saja.

Di pasar itu, juga ada orang yang menjual jasa memandikan sapi alias guyangan. Tukijo (65), salah seorang pelakunya. Setiap hari pasar dia memandikan puluhan sapi dengan upah Rp 7.000 per sapi yang dimandikan. Biasanya, sapi yang dibawa ke guyangan berasal dari daerah sulit air, seperti Musuk, Cepogo, dan Selo.

Hah, sapi benar-benar menyediakan lapangan kerja bagi rakyat di desa-desa. Tanpa mengobral janji pula. Sekali lagi, terima kasih sapi.

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: