Home > Uncategorized > Gerilya para Belantik

Gerilya para Belantik

Ratusan belantik atau makelar sapi memenuhi Pasar Ternak Munggi, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (10/8). Jumlah sapi yang diperdagangkan dan belantik nyaris sama banyaknya. Antara pasar sapi dan belantik memang nyaris tak terpisahkan. Hampir semua transaksi jual beli sapi menggunakan jasa belantik. Ahid (27), hari itu berhasil membeli 10 ekor sapi pesanan seorang pedagang besar. Sapi itu rencananya akan dijual lagi di pasar sapi di daerah lain. ”Kalau dia tawar menawar sendiri, mana bisa dia membeli sapi sebanyak itu dalam satu hari pasar,” katanya. Pentingnya jasa belantik diakui Mugi Harjono (35), pedagang sapi. Hari itu, dia membawa tiga sapi ke Munggi. Begitu sapi diturunkan dari truk, urusan segera berpindah ke tangan dua belantik. Belantik itulah yang menuntun sapi Mugi ke pasar, bergerilya mempromosikan sapi, hingga tawar menawar dengan pembeli. Kalau sapi itu laku, Mugi tinggal nampani atau menerima uangnya dan menyisihkannya Rp 25.000-Rp 50.000 per sapi sebagai komisi belantik. ”Untuk membeli sapi ke desa-desa, saya juga menggunakan jasa belantik. Dialah yang tahu warga mana yang akan menjual sapi. Kalau informasinya akurat dan transaksi terjadi, dia dapat komisi Rp 50.000 per ekor,” ujarnya. Pasar Ternak Sunggingan, Boyolali, Jawa Tengah, menjadi arena gerilya yang menggairahkan buat belantik. Selain sapi yang dijual lebih banyak, komisinya pun lebih besar. ”Komisinya berkisar Rp 150.000 per sapi,” kata belantik senior Prapto Sunarto (57). Apa modal seorang belantik? Yang penting pandai bicara, tawar menawar, dan—kalau bisa—punya telepon seluler. Karena itu, siapa pun yang pandai bicara bisa jadi belantik. ”Dulu, belantik harus punya kesaktian,” ujar Suyoto Sutarjo (52), belantik generasi ketiga di keluarga besarnya. Pasalnya, belantik zaman dulu kerap menuntun sapi dari desa ke pasar melewati jalan-jalan sepi. Di tengah jalan, mereka sering dihadang begal (perampok). Jadi belantik zaman dulu, menurut Suyoto, ”mesti atos balunge ulet kulite .” Itu bahasa Jawa yang artinya, harus keras tulangnya, kenyal kulitnya. Itu semacam etos kerja keras rakyat yang tecermin dari kerja para belantik yang tangguh.

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: