Home > Uncategorized > Lebih Cepat, Lebih Baik, Lebih Murah

Lebih Cepat, Lebih Baik, Lebih Murah

Judul tulisan ini bukan dimaksudkan untuk mengingatkan Anda tentang slogan kampanye dalam pemilu presiden tahun lalu. Namun, slogan ”lebih cepat, lebih baik, dan lebih murah” saya yakin semua sepakat bahwa itulah prinsip dan kunci keunggulan China sehingga produk-produknya menjadi yang ditakuti semua orang dan perekonomiannya semakin meraksasa.

Baru saja kita baca, China sudah menempati urutan pertama di dunia ini sebagai negara eksportir terbesar, mengalahkan Jerman. Kita di sini pun banyak pontang-panting, terbirit-birit, bahkan seperti lari tunggang-langgang menghadapi serbuan produk China. Ketika berbagai regulasi penghambat masuknya barang China saja para pengusaha sudah kelabakan menghadapinya, apalagi kalau semua hambatan tarif sudah dihapuskan.

Ketika bertemu dengan pejabat-pejabat Kedutaan Besar China di Jakarta beberapa waktu lalu, mereka mengatakan janganlah melihat satu sisi saja dari perdagangan bebas itu. Perdagangan bebas selalu bermata dua, di satu sisi membuka peluang untuk masuk pasar mereka, di sisi lain memang memberi tantangan agar kita meningkatkan kapasitas, kemampuan, dan daya saing.

Begitu banyak potensi pasar yang juga bisa digarap Indonesia di China. ”Contoh sederhana, berapa banyak penduduk China yang kian meningkat kemampuannya berwisata ke Indonesia. Persoalannya, hanya sedikit di antara mereka itu yang mengenal Indonesia,” kata mereka.

Di sinilah titik krusial persoalan perdagangan bebas tersebut. Perdagangan bebas itu tentu tidak datang tiba-tiba seperti banjir bandang, tanah longsor, gempa bumi yang sering kita alami. Langkah itu sudah diproses begitu lama, sejak sekitar 10 tahun silam. Permasalahannya, China mengerjakan semua pekerjaan rumahnya, bergerak lebih cepat, sementara kita tenang-tenang saja. Memang sering diomongkan, tetapi sebatas diomongkan.

Sementara China bergerak lebih gesit, melaju lebih cepat untuk menyediakan infrastruktur secara masif sehingga mobilitas penduduk dan distribusi barang di dalam negeri menjadi lebih lancar dan lebih cepat. Tentu saja hal itu juga berlaku bagi lalu lintas barang yang mereka impor dan ekspor.

Ketika kita, misalnya, masih berkutat berdebat soal energi sebagai salah satu penyebab mahalnya biaya berbisnis dan memproduksi barang, China sudah maju beribu langkah menyiapkan antisipasi sumber-sumber energi alternatif untuk masa depan yang sangat jauh. China kini sudah memasuki tahap menyiapkan energi nuklir, misalnya, sehingga suatu saat nanti China tidak akan tergantung pada impor batu bara, semisal dari Indonesia. China juga lebih cepat menggenjot kapasitas produksi domestiknya. Seorang pengusaha yang baru saja berkunjung dan bertemu eksekutif-eksekutif bisnis ataupun pengambil kebijakan publik di China tak henti-hentinya memuji langkah-langkah China. Uang negara digelontorkan ke daerah untuk membangun infrastrukturnya. Daerah bertanggung jawab dan berlomba mengembangkan infrastrukturnya, berpacu menarik investasi.

Badan usaha milik negara juga disuntik modal untuk membangun kapasitasnya, memproduksi barang semaksimal mungkin. Badan usaha swasta yang memproduksi produk strategis juga didukung penuh dengan berbagai fasilitas untuk meningkatkan kapasitas dan mutu produknya.

Belum lagi soal buruh yang kompetitif, baik produktivitasnya maupun tingkat upahnya, seperti banyak diceritakan pengusaha. Birokrasi di China, terutama di kawasan-kawasan pengembangan bisnis, sungguh menyenangkan. Untuk melayani investor asing, tenaga-tenaga pelayanan adiministratif level paling bawah pun bahkan dilatih di luar negeri, atau pelatih dari luar negeri didatangkan untuk melatih mereka agar memahami sikap, kultur, dan kebutuhan investor. Pendeknya, investor yang masuk ke suatu kawasan pengembangan bisnis dibuat sedemikian nyaman karena diberi jaminan keamanan dan kepastian berusaha. Masuknya investor juga membawa teknologi, yang kemudian dikembangkan sendiri oleh China.

Di level makro, Pemerintah China dan bank sentralnya bekerja sama erat untuk mempertahankan tingkat inflasi yang wajar, mempertahankan kurs atau nilai tukar mata uangnya agar tidak berfluktuasi bebas seperti kurs rupiah yang sering kali tak ubahnya roller coaster. Tingkat suku bunga perbankan di negara itu juga sangat rendah, hampir dua kali lipat lebih murah ketimbang suku bunga di Indonesia.

Semua itu membuat ekonomi China termasuk produknya menjadi semakin kompetitif. Akhirnya, produk China menjadi lebih baik mutunya dan lebih murah harganya.

Lantas kita melihat semua itu dengan ” rasa iri” dan bertanya mengapa tidak ada gerakan demikian di negara kita. Setelah itu, seperti biasa, cepat-cepat kita mencari kambing hitam atas kekalahan dan kelemahan kita. Ya, salah satunya kambing hitam itu adalah barang China banyak diselundupkan masuk.

Lha, bukan salah barang China itu kalau diselundupkan oleh para penyelundup. Salahnya aparat kita yang tidak bisa menangkap dan memenjarakan penyelundup itu. Salahnya oknum aparat kita yang mau disuap untuk meloloskan barang selundupan.

Intinya, di China ada leadership yang kuat dan visioner, melihat jauh ke depan tantangan China sebagai negara yang berpenduduk lebih dari satu miliar jiwa. Pemimpinnya tidak sekadar puas merumuskan tantangan bangsanya itu ke dalam konsep, diomongkan lalu berhenti. Akan tetapi, jauh lebih penting menjawab tantangan itu dengan mengimplementasikan programnya.

Ketika bertemu seorang pejabat tempo hari, dia mengatakan jangan terlalu cemas. Ada juga produk-produk unggulan kita yang bisa bersaing dengan produk China dan produk negara lain di pasar China.

Apa itu? Katanya, ya, seperti kelapa sawit, kakao, karet, dan batu bara.

Astaga…! Kalau hanya mengekspor komoditas primer, itu bukan produk unggulan namanya. Itu komoditas anugerah Tuhan yang Maha Pemurah kepada bangsa ini.

Sumber: Kompas Cetak, ANDI SURUJI

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: