Home > Uncategorized > Menggugah Masyarakat yang “Tertidur”

Menggugah Masyarakat yang “Tertidur”

Warji (46), petani Desa Bangunrejo, Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, tak pernah menyangka bisa mendapatkan uang pada musim tanam ketiga.

Dia yang kerap menganggur dan tidak pernah mengolah seperempat hektar sawah setiap musim kemarau itu kini berpenghasilan Rp 20.000 per hari. ”Tugas saya cukup ringan, memikul potongan ketela, menjemur, membolak-balik, dan mengambil potongan-potongan yang telah mengering atau menjadi gaplek,” kata Warji di Rembang, Senin (19/10).

Pekerjaan yang telah dijalani Warji selama lebih kurang tiga bulan itu secara otomatis menggerakkan rangkaian gerbong kehidupan keluarganya. Dia mendapat tambahan pemasukan selain dari sawah sendiri, kebutuhan pendidikan ketiga anaknya tercukupi, dan asap dapur rumah tangganya terus mengepul. Warji hanyalah satu dari sekitar 200 orang yang bekerja pada Ahmad Zamzami (23), pembudidaya ketela pohon (Manihot utilissima).

Sejak sekitar setahun lalu anak petani Desa Bangunrejo tersebut membudidayakan ketela pohon di lahan tidur Kesatuan Pemangku Hutan Kebonharjo Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah. Bermodal Rp 225 juta, dia berkongsi dengan lima teman menanam ketela di lahan seluas 70 hektar secara bertahap. Dalam hitungan delapan bulan, Zamzami mampu memanen sekitar 18 ton ketela pohon di setiap hektar lahan. Dia memperkirakan, dengan lahan seluas 70 hektar, ketela pohon yang dipanen berjumlah 1.260 ton. ”Saat ini saya sudah menghasilkan 200 ton ketela pohon setiap bulan.

Jumlah tenaga kerja lokal yang sudah terserap sekitar 200 orang. Perempuan mendapat upah Rp 17.500 per hari, sedangkan lelaki Rp 20.000-Rp 25.000 per hari,” kata Zamzami. Maka, tidak mengherankan jika Warji dan ratusan warga Kecamatan Pamotan kini mempunyai penghasilan tambahan.

Selain itu, mereka juga mempunyai kesempatan untuk mengikuti jejak Zamzami membudidayakan ketela pohon sebagai bahan baku gaplek zebra atau gaplek yang samar-samar belang, hitam dan putih. Zamzami mengatakan, semula ketela pohon itu akan dijual untuk mencukupi kebutuhan pabrik bioetanol di Surabaya sebagaimana digambar-gemborkan Pemerintah Kabupaten Rembang.

Namun, di tengah perjalanan, rencana itu kandas sehingga membuat dia dan rekanan berganti haluan. Hal itu mengakibatkan harga ketela pohon jatuh dari Rp 900 per kilogram menjadi Rp 300 per kilogram. Untuk itu, Zamzami mencoba mengolah ketela pohon menjadi gaplek. Harga 1 kilogram gaplek Rp 900. ”Saya memasarkan gaplek di salah satu perusahaan eksportir di Surabaya sebanyak 50 kilogram per bulan dan dua koperasi pakan ternak di Rembang masing-masing 100 kilogram per bulan,” tutur Zamzami.

Upaya anak petani yang sedang studi di Fakultas Manajemen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YPPI Rembang semester III itu menggeliatkan ekonomi lokal Pamotan. Melalui pemanfaatan lahan tidur Perhutani, dia menggugah pola pikir masyarakat yang tertidur.

Satijah (25), warga Desa Bangunrejo, mengemukakan, ia turut menambah penghasilan suami yang bekerja sebagai buruh serabutan di Surabaya. ”Dari merajang ketela pohon, saya memperoleh Rp 17.500 per hari. Lumayan, bisa untuk menambah penghasilan suami yang memperoleh Rp 200.000 per bulan,” kata ibu dengan satu anak yang duduk di kelas III SD itu.

Sumber: Kompas

Categories: Uncategorized Tags: , , , ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: