Home > Uncategorized > Susumu Penopang Hidupku

Susumu Penopang Hidupku

Patung sapi tersebar di sudut-sudut kota hingga pelosok desa Boyolali. Di bawah patung sapi itu terbaca, ”Susumu Penopang Hidupku”. Itulah penghargaan orang Boyolali kepada sapi yang memberi rezeki dan penghidupan pada rakyat. Budi Suwarna dan Antony lee

Sebuah gapura beton dengan relief sapi dipasang di pintu masuk Desa Mudal, Kecamatan Boyolali Kota. Di bawah relief itu terbaca tulisan besar: ”Susumu Penopang Hidupku”.

Tulisan tersebut bukan slogan kosong. Sebagian warga di kecamatan itu memang hidup dari susu sapi. Dari susu sapi, mereka bisa membiayai kebutuhan keluarga sehari-hari, membangun rumah, hingga menyekolahkan anak sampai tingkat sarjana, bahkan doktoral.

Mari kita simak kisah Jumadi (66), warga Mudal yang sudah 40 tahun menggeluti bisnis sapi. Dia mulai beternak sapi tahun 1960-an dengan dua ekor pedhet (anak sapi). Pada saat yang sama dia menjadi pedagang sapi antarkota. Hasil penjualan sapi dia sisihkan untuk membeli sapi perah. Begitu seterusnya. Sekarang, dia memiliki 80 sapi perah, 12 di antaranya memproduksi susu.

Kehidupan Jumadi pun membaik. Dulu, rumahnya berdinding gedhek. Sekarang, rumahnya berdinding batu dengan lantai keramik.

Dia juga mampu menyekolahkan sembilan anaknya. Lima di antaranya telah jadi sarjana. Salah seorang anaknya kini sedang sekolah tingkat doktoral di Jerman.

Kisah manis seperti itu bertebaran di desa-desa penghasil susu lainnya di Boyolali. Sri Kuncoro, warga Desa Kebongulo, Kecamatan Musuk, juga merasa terangkat hidupnya oleh sapi. Pensiunan tentara dengan pangkat terakhir letnan dua itu mulai beternak tiga ekor sapi perah pada akhir tahun 1989. Sapinya beranak pinak hingga mencapai 25 ekor saat ini.

Keuntungan dari ternak sapi selanjutnya dia kembangkan ke usaha lain, seperti warung makan dan swalayan. Sebagian lagi dia gunakan untuk pendidikan tiga anaknya. Dua anaknya berhasil sekolah hingga tingkat master, seorang lagi hingga tingkat doktoral.

”Itu semua berkat sapi,” kata Sri yang menjabat Ketua Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Provinsi Jawa Tengah.

Sapi juga membuat Dusun Gatakrejo, Kecamatan Musuk, sejahtera. Sampai tahun 1990-an, rumah-rumah di desa itu masih berbilik gedhek. Berkat susu sapi, hampir semua rumah di sana kini berdinding batu. Setiap rumah rata-rata memiliki lebih dari dua sepeda motor.

Di halaman rumah Parjito (40), misalnya, ada enam sepeda motor, satu mobil angkutan desa, satu mobil carry, dan sebuah truk tangki air. Itu semua milik Parjito yang dia peroleh dari jualan susu. Tidak hanya itu, dia juga mampu membeli satu hektar tanah.

Jika kita masuk ke bagian belakang rumah Parjito, kita akan menemukan harta lainnya, yakni 50 ekor lebih sapi perah, 25 di antaranya sedang getol-getolnya memproduksi susu. Sehari, Parjito bisa mengumpulkan 250 liter susu sapi segar yang kalau diuangkan nilainya sekitar Rp 850.000. Setelah dipotong ongkos produksi, dia rata-rata mendapat untung bersih Rp 200.000.

”Uang itu untuk keperluan sehari- hari keluarga. Kalau untuk biaya pendidikan, beli rumah, tanah, motor, mobil, saya jual sapi,” kata Parjito yang belum lama ini menjual seekor sapi besar seharga Rp 21 juta.

Ramalan Pandanaran

Sejarah peternakan sapi di Boyolali memang bukan dimulai kemarin sore. Ribut Budi Santoso, budayawan dari Ketoleng Institute Indonesia Boyolali, mengatakan, sejak zaman Mataram Kuno masyarakat Boyolali diperkirakan telah mengenal ternak sapi. Salah satu indikasinya, banyak ditemukan arca Lembu Nandini di wilayah ini.

Di luar itu, ada pula cerita rakyat yang menunjukkan bahwa peternakan sapi sudah ada di Boyolali sejak lama. Salah satunya, kisah perjalanan Bupati Semarang pada abad ke-16 Ki Ageng Pandan Arang—banyak juga yang menulis Ki Ageng Pandanaran—dari Semarang ke Gunung Jabalakat di Bayat, Klaten, untuk memperdalam ajaran Islam.

Syahdan, dalam perjalanan itu Ki Ageng singgah di Boyolali untuk sembahyang. Di situ, dia bertemu seorang pencari rumput yang sangat giat bekerja. ”Untuk apa rumput itu?” tanya Ki Ageng.

Si pencari rumput menjawab, untuk makanan sapi. Ki Ageng selanjutnya meramalkan, Boyolali bakal menjadi pusat sapi. Kisah itu setiap HUT Boyolali, 31 Juli, selalu diingatkan pada masyarakat.

Terlepas dari ramalan itu, Boyolali sekarang memang jadi pusat sapi di Jawa Tengah. Data tahun 2009 menunjukkan, populasi sapi perah di kota ini lebih dari 62.000 ekor, sedangkan sapi potong hampir 89.000 ekor.

Boyolali juga menghasilkan 35,9 juta liter susu segar per tahun, meskipun penduduknya termasuk malas minum susu. Bayangkan, tingkat konsumsi susu di sana hanya 3,4 kilogram per tahun. Jauh di bawah rata-rata konsumsi susu Jateng yang mencapai 8,1 kilogram.

Apa pun itu, sapi adalah aset utama sebagian besar warga desa di Boyolali. Itu adalah aset yang sudah jadi kapital atau bisa diuangkan dan dikembangkan, bukan aset mati.

Itulah sebabnya, sebagian warga Boyolali merasa sangat berutang budi pada sapi. Sebagai rasa terima kasih pada sapi, di hampir semua sudut kota berdiri patung sapi—bukan patung tokoh politik.

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: