Archive

Archive for August, 2010

Gerilya para Belantik

August 22, 2010 Leave a comment

Ratusan belantik atau makelar sapi memenuhi Pasar Ternak Munggi, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (10/8). Jumlah sapi yang diperdagangkan dan belantik nyaris sama banyaknya. Antara pasar sapi dan belantik memang nyaris tak terpisahkan. Hampir semua transaksi jual beli sapi menggunakan jasa belantik. Ahid (27), hari itu berhasil membeli 10 ekor sapi pesanan seorang pedagang besar. Sapi itu rencananya akan dijual lagi di pasar sapi di daerah lain. ”Kalau dia tawar menawar sendiri, mana bisa dia membeli sapi sebanyak itu dalam satu hari pasar,” katanya. Pentingnya jasa belantik diakui Mugi Harjono (35), pedagang sapi. Hari itu, dia membawa tiga sapi ke Munggi. Begitu sapi diturunkan dari truk, urusan segera berpindah ke tangan dua belantik. Belantik itulah yang menuntun sapi Mugi ke pasar, bergerilya mempromosikan sapi, hingga tawar menawar dengan pembeli. Kalau sapi itu laku, Mugi tinggal nampani atau menerima uangnya dan menyisihkannya Rp 25.000-Rp 50.000 per sapi sebagai komisi belantik. ”Untuk membeli sapi ke desa-desa, saya juga menggunakan jasa belantik. Dialah yang tahu warga mana yang akan menjual sapi. Kalau informasinya akurat dan transaksi terjadi, dia dapat komisi Rp 50.000 per ekor,” ujarnya. Pasar Ternak Sunggingan, Boyolali, Jawa Tengah, menjadi arena gerilya yang menggairahkan buat belantik. Selain sapi yang dijual lebih banyak, komisinya pun lebih besar. ”Komisinya berkisar Rp 150.000 per sapi,” kata belantik senior Prapto Sunarto (57). Apa modal seorang belantik? Yang penting pandai bicara, tawar menawar, dan—kalau bisa—punya telepon seluler. Karena itu, siapa pun yang pandai bicara bisa jadi belantik. ”Dulu, belantik harus punya kesaktian,” ujar Suyoto Sutarjo (52), belantik generasi ketiga di keluarga besarnya. Pasalnya, belantik zaman dulu kerap menuntun sapi dari desa ke pasar melewati jalan-jalan sepi. Di tengah jalan, mereka sering dihadang begal (perampok). Jadi belantik zaman dulu, menurut Suyoto, ”mesti atos balunge ulet kulite .” Itu bahasa Jawa yang artinya, harus keras tulangnya, kenyal kulitnya. Itu semacam etos kerja keras rakyat yang tecermin dari kerja para belantik yang tangguh.

Categories: Uncategorized

Kisah Pemijat Sapi dan Tukang Jamu

August 22, 2010 Leave a comment

Sapi memberikan pekerjaan. Itu bukan omong kosong. Di Yogyakarta dan Boyolali, ada sejumlah profesi berbasis sapi: pijit sapi, tukang cocok hidung, sampai tukang rogoh.

Seminggu terakhir, sapi milik Tujilah ”mogok makan”. Akibatnya, tubuh sapi itu lemas sampai tak bisa berdiri. Tujilah khawatir. Dia pun menghubungi Dul Aman (61), pemijat sapi dan kuda di Segoroyoso—sebuah desa di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang terkenal sebagai tempat pejagalan sapi dan kuda.

Kamis (19/8) siang, Dul datang ke rumah Tujilah. Dia langsung menemui sapi Tujilah di kandang. Setelah mengikatnya kuat-kuat, Dul memijat bagian punduk sapi sambil mulutnya komat-kamit membaca mantra. Pijatan dilanjutkan ke bagian kaki depan, punggung, dan kaki belakang. Kemudian, tiba-tiba Dul membetot ekor sapi itu kuat-kuat. Sapi itu kaget dan meronta. Dul tenang-tenang saja.

”Memijat hewan itu harus tenang, tetapi waspada, sebab hewan suka melawan,” kata Dul yang bokongnya pernah digigit kuda yang dipijatnya.

Betotan itu menjadi penutup sesi pijat yang berlangsung selama 30 menit. Dul selanjutnya membaluri bagian tubuh sapi itu dengan krim hasil racikan sendiri. ”Bahannya terdiri dari satu ons jahe, 25 biji cabai rawit merah, dan satu botol kecil spiritus atau alkohol. Rasanya sangat panas dan bisa bikin sapi kelojotan. Tetapi, setelah itu, sapi langsung sembuh,” katanya.

Dul mulai memijat sapi sejak tahun 1983. Dia mewarisi ilmu itu dari ayah dan kakeknya yang juga pemijat sapi. Pijatannya, kata Dul, mampu menyembuhkan sapi yang masuk angin, terkilir, patah tulang, tidak nafsu makan, kecetit, dan sulit punya anak.

Dari profesi inilah Dul menghidupi keluarganya hingga sekarang. Hampir setiap hari ada saja orang yang memanggil Dul. Pelanggannya pun melewati batas provinsi hingga ke Boyolali, Jakarta, dan Lampung.

Obat sapi, rogoh sapi

Sapi juga butuh jamu dan obat. Tentu agar para sapi tetap fit. Ngadenan Rais (40) dan istrinya, Siti (38), mencari rezeki dengan berjualan jamu dan obat untuk sapi. Setiap hari, dia menyambangi pasar ternak di wilayah Yogyakarta untuk berjualan jamu sapi. Awal Agustus lalu, dia jualan di sudut Pasar Ternak Munggi. Bermodal toa atau pengeras suara butut, dia berpromosi.

”Kalau sapinya cacingan, minum ini,” katanya sambil mengacungkan obat cacing sapi—dia berbicara dalam bahasa Jawa.

”Yen sapine kurang birahi utawa ora meteng-meteng, ombenono iki, nyoh…!! —Kalau sapinya kurang berahi dan tidak bunting, minum ini, nih…!” katanya mengacungkan obat lainnya.

Di lapak Rais ada berbagai obat sapi yang dipajang. Ada obat untuk mencegah cacingan, masuk angin dan korengan, menambah nafsu makan, dan obat subur buat sapi betina.

Dia bersaing dengan Kamto Sudarmo (56) yang berjualan tidak jauh dari lapaknya. ”Kalo pedhet kasih setengah kapsul. Yang babon, dua kapsul. Ingat, jangan dikasih ke sapi yang lagi meteng (bunting),” ujar Kamto menjelaskan cara penggunaan kapsul penambah nafsu makan berukuran jumbo, 2 x 5 sentimeter, kepada seorang pembeli.

Kamto berjualan jamu sejak tahun 1979. Awalnya, dia menjajakan jamu untuk manusia, tetapi sejak akhir 1990, dia banting setir menjual jamu sapi. ”Ternyata lebih laku jamu sapi. Sehari bisa dapat Rp 200.000 dengan keuntungan 20 persen,” kata Kamto.

Ada pula profesi pencocok hidung sapi. Di tengah pasar, Supriyanto melubangi hidung sapi metal berukuran besar. Dia pegang kepala sapi yang sudah terikat tak berdaya itu. Kemudian, tangannya sebelah dengan cepat menceploskan jarum dari kulit bambu yang diberi tali ke dalam hidung sapi. Usahanya berhasil dan dia mendapatkan uang beberapa ribu rupiah.

Tukang ngeluwi (mencocok hidung sapi) di pasar itu bukan hanya Supriyanto. Ada juga Duwet Suyar (41) yang hari itu tidak dapat order. ”Mencocok hidung sapi itu perlu keahlian. Kalau salah tusuk, hidung sapi bisa berlumuran banyak darah,” kata Duwet yang ngeluwi sejak usia 12 tahun.

Orang berprofesi unik yang menggantungkan hidup pada sapi juga mudah ditemukan di Pasar Ternak Sunggingan, Boyolali, Jawa Tengah. Di sana, ada juru rogoh Sulisno Hartosuwiryo (61) yang tugasnya memeriksa kebuntingan sapi. Hasil pemeriksaan Sulisno menentukan harga jual sapi. Maklum, harga sapi bunting lebih tinggi Rp 1 juta-Rp 1,5 juta dibanding sapi tak bunting.

”Sejauh ini belum pernah ada yang protes (karena hasil pemeriksaan) tidak akurat,” ujar Sulisno yang melakoni pekerjaan ini sejak 20 tahun lalu.

Di pasar itu, dia adalah satu-satunya juru rogoh. Setiap hari pasar di Sunggingan, dia memeriksa 70-80 ekor sapi betina. Saat dijumpai, Selasa (17/8) pagi, dia telah merogoh 20 ekor sapi.

Sekali rogoh dia mendapat upah Rp 10.000. Itu jika sapi terbukti bunting. Jika tidak, dia mendapat Rp 5.000 saja.

Di pasar itu, juga ada orang yang menjual jasa memandikan sapi alias guyangan. Tukijo (65), salah seorang pelakunya. Setiap hari pasar dia memandikan puluhan sapi dengan upah Rp 7.000 per sapi yang dimandikan. Biasanya, sapi yang dibawa ke guyangan berasal dari daerah sulit air, seperti Musuk, Cepogo, dan Selo.

Hah, sapi benar-benar menyediakan lapangan kerja bagi rakyat di desa-desa. Tanpa mengobral janji pula. Sekali lagi, terima kasih sapi.

Categories: Uncategorized

Susumu Penopang Hidupku

August 22, 2010 Leave a comment

Patung sapi tersebar di sudut-sudut kota hingga pelosok desa Boyolali. Di bawah patung sapi itu terbaca, ”Susumu Penopang Hidupku”. Itulah penghargaan orang Boyolali kepada sapi yang memberi rezeki dan penghidupan pada rakyat. Budi Suwarna dan Antony lee

Sebuah gapura beton dengan relief sapi dipasang di pintu masuk Desa Mudal, Kecamatan Boyolali Kota. Di bawah relief itu terbaca tulisan besar: ”Susumu Penopang Hidupku”.

Tulisan tersebut bukan slogan kosong. Sebagian warga di kecamatan itu memang hidup dari susu sapi. Dari susu sapi, mereka bisa membiayai kebutuhan keluarga sehari-hari, membangun rumah, hingga menyekolahkan anak sampai tingkat sarjana, bahkan doktoral.

Mari kita simak kisah Jumadi (66), warga Mudal yang sudah 40 tahun menggeluti bisnis sapi. Dia mulai beternak sapi tahun 1960-an dengan dua ekor pedhet (anak sapi). Pada saat yang sama dia menjadi pedagang sapi antarkota. Hasil penjualan sapi dia sisihkan untuk membeli sapi perah. Begitu seterusnya. Sekarang, dia memiliki 80 sapi perah, 12 di antaranya memproduksi susu.

Kehidupan Jumadi pun membaik. Dulu, rumahnya berdinding gedhek. Sekarang, rumahnya berdinding batu dengan lantai keramik.

Dia juga mampu menyekolahkan sembilan anaknya. Lima di antaranya telah jadi sarjana. Salah seorang anaknya kini sedang sekolah tingkat doktoral di Jerman.

Kisah manis seperti itu bertebaran di desa-desa penghasil susu lainnya di Boyolali. Sri Kuncoro, warga Desa Kebongulo, Kecamatan Musuk, juga merasa terangkat hidupnya oleh sapi. Pensiunan tentara dengan pangkat terakhir letnan dua itu mulai beternak tiga ekor sapi perah pada akhir tahun 1989. Sapinya beranak pinak hingga mencapai 25 ekor saat ini.

Keuntungan dari ternak sapi selanjutnya dia kembangkan ke usaha lain, seperti warung makan dan swalayan. Sebagian lagi dia gunakan untuk pendidikan tiga anaknya. Dua anaknya berhasil sekolah hingga tingkat master, seorang lagi hingga tingkat doktoral.

”Itu semua berkat sapi,” kata Sri yang menjabat Ketua Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Provinsi Jawa Tengah.

Sapi juga membuat Dusun Gatakrejo, Kecamatan Musuk, sejahtera. Sampai tahun 1990-an, rumah-rumah di desa itu masih berbilik gedhek. Berkat susu sapi, hampir semua rumah di sana kini berdinding batu. Setiap rumah rata-rata memiliki lebih dari dua sepeda motor.

Di halaman rumah Parjito (40), misalnya, ada enam sepeda motor, satu mobil angkutan desa, satu mobil carry, dan sebuah truk tangki air. Itu semua milik Parjito yang dia peroleh dari jualan susu. Tidak hanya itu, dia juga mampu membeli satu hektar tanah.

Jika kita masuk ke bagian belakang rumah Parjito, kita akan menemukan harta lainnya, yakni 50 ekor lebih sapi perah, 25 di antaranya sedang getol-getolnya memproduksi susu. Sehari, Parjito bisa mengumpulkan 250 liter susu sapi segar yang kalau diuangkan nilainya sekitar Rp 850.000. Setelah dipotong ongkos produksi, dia rata-rata mendapat untung bersih Rp 200.000.

”Uang itu untuk keperluan sehari- hari keluarga. Kalau untuk biaya pendidikan, beli rumah, tanah, motor, mobil, saya jual sapi,” kata Parjito yang belum lama ini menjual seekor sapi besar seharga Rp 21 juta.

Ramalan Pandanaran

Sejarah peternakan sapi di Boyolali memang bukan dimulai kemarin sore. Ribut Budi Santoso, budayawan dari Ketoleng Institute Indonesia Boyolali, mengatakan, sejak zaman Mataram Kuno masyarakat Boyolali diperkirakan telah mengenal ternak sapi. Salah satu indikasinya, banyak ditemukan arca Lembu Nandini di wilayah ini.

Di luar itu, ada pula cerita rakyat yang menunjukkan bahwa peternakan sapi sudah ada di Boyolali sejak lama. Salah satunya, kisah perjalanan Bupati Semarang pada abad ke-16 Ki Ageng Pandan Arang—banyak juga yang menulis Ki Ageng Pandanaran—dari Semarang ke Gunung Jabalakat di Bayat, Klaten, untuk memperdalam ajaran Islam.

Syahdan, dalam perjalanan itu Ki Ageng singgah di Boyolali untuk sembahyang. Di situ, dia bertemu seorang pencari rumput yang sangat giat bekerja. ”Untuk apa rumput itu?” tanya Ki Ageng.

Si pencari rumput menjawab, untuk makanan sapi. Ki Ageng selanjutnya meramalkan, Boyolali bakal menjadi pusat sapi. Kisah itu setiap HUT Boyolali, 31 Juli, selalu diingatkan pada masyarakat.

Terlepas dari ramalan itu, Boyolali sekarang memang jadi pusat sapi di Jawa Tengah. Data tahun 2009 menunjukkan, populasi sapi perah di kota ini lebih dari 62.000 ekor, sedangkan sapi potong hampir 89.000 ekor.

Boyolali juga menghasilkan 35,9 juta liter susu segar per tahun, meskipun penduduknya termasuk malas minum susu. Bayangkan, tingkat konsumsi susu di sana hanya 3,4 kilogram per tahun. Jauh di bawah rata-rata konsumsi susu Jateng yang mencapai 8,1 kilogram.

Apa pun itu, sapi adalah aset utama sebagian besar warga desa di Boyolali. Itu adalah aset yang sudah jadi kapital atau bisa diuangkan dan dikembangkan, bukan aset mati.

Itulah sebabnya, sebagian warga Boyolali merasa sangat berutang budi pada sapi. Sebagai rasa terima kasih pada sapi, di hampir semua sudut kota berdiri patung sapi—bukan patung tokoh politik.

Categories: Uncategorized
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.